Inilah 5 Faktor Penyebab Peternakan Rakyat Sulit Berkembang | Peternakan rakyat adalah usaha peternakan yang jumlah maksimum kegiatannya untuk tiap jenis ternak ditetapkan oleh menteri. Karekteristik masyarakat Indonesia sejak dahulu adalah terbiasa memelihara ternak baik ternak sapi, kerbau, kambing, domba, ayam, itik, dan sebagainya.

Karakteristik inilah yang menyebabkan populasi ternak berkembang hampir di seluruh wilayah Indonesia. Namun jika ditinjau dari kacamata agribisnis, peternakan rakyat sulit berkembang dan bahkan dapat dikatakan tidak signifikan kontribusinya terhadap peningkatan kesejahteraan.

Padahal masyarakat kita sudah terbiasa dalam pemeliharaan berbagai jenis ternak sejak nenek moyang kita dahulu. Belum lagi jika ditinjau dari kondisi geografis dan dukungan sumberdaya alam, sebagian besar wilayah Indonesia sangat potensial untuk pengembangan usaha peternakan.

Tanah kita subur, yang memungkinkan berbagai jenis makanan ternak bisa tumbuh, sehingga bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Sumberdaya genetik ternak kita adaptif, bisa beradaptasi dengan lingkungan yang ekstream. Belum lagi sumberdaya lainnya yang memungkinkan untuk pengembangan usaha peternakan. Namun semua itu serasa tidak signifikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarkat kita dari sektor peternakan.

Apa yang salah dengan semua ini? Bukankan Allah SWT menciptakan semua ini untuk kita manfaatkan agar dapat menunjang hidup dan kehidupan kita? Ataukah kita yang keliru dalam memaknai jalan hidup untuk sukses sehingga menutup mata terhadap sektor peternakan yang begitu menjanjikan? 

Untuk menjawab itu semua, pada artikel ini akan diuraikan beberapa faktor yang menghambat peternakan rakyat sehingga sehingga dampaknya kurang signifikan untuk meningkatkan kesejahteraan.

1. Kepemilikan Ternak Rendah

Salah satu ciri khas peternakan rakyat adalah tingkat kepemilikan ternak yang rendah. Untuk ternak sapi, setiap peternak rata-rata hanya memiliki 4-6 ekor ternak yang dipelihara. Padahal jika dilihat dari potensi ketersediaan pakan dan lahan pada sebagian besar wilayah Indonesia sangat tinggi untuk pengembangan peternakan sapi.

Rendahnya kepemilikan ternak sapi di tingkat masyarakat salah satu penyebabnya adalah pemeliharaan ternak yang belum berorientasi pada agribisnis. Melainkan hanya dipelihara sebagai tabungan yang sewaktu-waktu jika dibutuhkan ternaknya dapat dijual.

Beberapa peneliti juga pernah melaporkan bahwa rendahnya kepemilikan ternak sapi dipengaruhi oleh kemampuan peternak dalam memelihara. Dilaporkan bahwa rata-rata kemampuan peternak dalam memelihara ternak sapi antara 4-6 ekor. Artinya bahwa, sebagian peternak berpikir jika sudah melebihi 6 ekor, sebagian ternaknya dapat dijual sehingga peningkatan populasi sapi cenderung lamban.

Tidak hanya sapi, peternak kita juga dalam pemeliharaan ternak lain seperti kambing, ayam, maupun itik, hanya dianggap sebagai sambilan. Sehingga populasi yang dimiliki tidak signifikan perkembangannya untuk meningkatkan kesejahteraan rumah tangga.

Padahal, jika ternak ayam dipelihara dengan orientasi bisnis, maka akan mendatangkan keuntungan yang lumayan banyak meskipun dengan modal yang sedikit.

Baca Juga: Potensi Daya Dukung Pakan Ternak Ruminansia dan Cara Menghitungnya

2. Pemeliharaan Ternak Sebagai Tabungan

Seperti dijelaskan diatas, bahwa sebagian peternak kita memelihara ternak hanya dijadikan sebagai tabungan. Pada saat tertentu membutuhkan uang, ternaknya dijual untuk memenuhi kebutuhan mendesak tersebut. Jarang sekali penulis temui, khususnya di wilayah Sulawesi Tengah ini peternak yang betul-betul mengembangkan usaha peternakan sebagai usaha agribisnis.

Di beberapa wilayah memang terdapat beberapa usaha peternakan yang dikelola dengan berorientasi bisnis, namun jika dibandingkan dengan potensi yang tersedia masih sangat kecil.

Di Kabupaten Tolitoli misalnya, usaha peternakan ayam baik ayam petelur maupun ayam broiler dapat dihitung dengan jari. Padahal tingkat permintaan terhadap produk telur dan daging ayam sangat tinggi. Pada beberapa kesempatan, penulis mewawancarai beberapa rumah makan maupun usaha penjualan ayam, mereka menyebutkan bahwa ternak ayam yang dijual adalah ayam yang berasal dari luar daerah utamanya dari Palu.

Fakta ini menggambarkan bahwa kemampuan produksi kita untuk menyediakan permintaan produk ayam masih sangat kecil, sehingga untuk memenuhi permintaan terhadap produk tersebut masih bergantung pada produk dari luar daerah.

Memang perlu dilakukan riset mendalam terkait ini, apakah produksi kita yang rendah atau produk yang kita hasilkan tidak mampu bersaing di pasar. Sehingga produk dari luar daerah mendominasi pemenuhan permintaan yang ada.

3. Tidak Memiliki Modal yang Cukup

Usaha peternakan memang usaha yang padat modal, utamanya pada biaya pakan yang mencakup lebih dari 70% modal usaha. Pada beberapa usaha peternakan rakyat memang terdapat usaha yang memerlukan pembiayaan yang besar, sebut saja usaha penggemukan sapi, tapi sebenarnya pada beberapa usaha peternakan lain cukup diusahakan dengan modal yang tidak terlalu banyak.

Pemeliharaan ayam broiler misalnya, dapat berjalan dengan modal antara 10 sampai 20 juta untuk pemeliharaan 300 sampai 500 ekor pada periode pertama. Sedangkan untuk periode selanjutnya modal yang dibutuhkan tidak lagi sebesar itu, karena kandang dan peralatan tidak perlu dibeli kembali. Artinya bahwa usaha peternakan ini sangat potensial dan menjanjikan untuk dikembangkan. 

4. Pengetahuan dalam Pemeliharaan Ternak Masih Rendah

Faktor ini memang tidak kalah pentingnya untuk mengembangkan usaha peternakan rakyat. Pemeliharaan ternak butuh pengetahuan dan keterampilan yang cukup sebelum memastikan untuk membangun sebuah usaha peternakan. Baca disini tentang keterampilan yang perlu dimiliki peternak dalam usaha peternakan.

Meskipun demikian, pengetahuan dan keterampilan adalah sesuatu yang dapat dipelajari. Apalagi di era perkembangan teknologi seperti sekarang ini, pengetahuan dapat diakses dengan mudah hanya melalui smartphone. 

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak dalam pemeliharaan ternak adalah mengefektifkan kinerja penyuluh peternakan yang memang bertugas untuk memberikan penerangan kepada peternak tentang tata cara pemeliharaan peternakan.

Tentu saja untuk mengeefektifkan kinerja penyuluh peternakan ini diperlukan suatu rencana strategis dan komitmen yang kuat dari intansi yang mengurusi tentang peternakan di daerah ini.

5. Peternakan Tidak Dipandang Sebagai Sektor yang Menjanjikan dari Kacamata Bisnis

Sudah menjadi hukum alam bahwa apa-apa yang dapat menghasilkan uang dengan cepat pasti banyak masyarakat yang mengusahakannya. Dari hal sederhana, misalnya penjual pisang goreng, ketika ada salah satu lapak pisang goreng yang berhasil menarik pembeli yang banyak maka masyarakat akan tertarik untuk membuka usaha pisang goreng. Dampaknya, dalam waktu singkat penjual pisang goreng bertambah banyak.

Usaha peternakan tidak seperti penjual pisang goreng diatas. Peternakan “kelihatannya” tidak dapat menghasilkan uang dengan cepat sehingga jarang sekali masyarakat kita tergerak hatinya untuk memulai usaha peternakan. Sehingga beternak hanya dilakukan sebisanya saja tidak merupakan suatu usaha yang dikelola sebagai bisnis.

Padahal, usaha peternakan bukan tidak memiliki segmen pasar seperti pisang goreng tadi. Bahkan, usaha peternakan memiliki segmen pasarnya sendiri. 

Baca Juga: Hal-hal yang Harus Dilakukan Sebelum Memulai Usaha Peternakan

Fenomena ini dapat dibuktikan dengan mudah. Lihat saja di desa-desa pada sebagian besar bahkan mungkin 90% di wilayah Kabupaten Tolitoli, kita bisa menemukan ternak sapi, kambing, itik, apalagi ayam, berkeliaran dijalan jalan. Padahal, disadari atau tidak, pemilik sapi yang sapinya dibiarkan berkeliaran sama dengan membiarkan 8 sampai 9 juta uangnya dijalan (1 ekor sapi). 

Bagaimana jika memiliki sapi sampai 4 ekor? Silahkan kalikan sendiri berapap uang yang dibiarkan peternak tadi berkeliaran dijalan?!

Belum lagi jika kita bicara pemeliharaan ternak ayam, sedangkan sapi yang memiliki nilai jual tinggi (dibanding ayam) peternak enggan untuk memeliharanya dengan baik. Peternakan ayam khususnya ayam kampung, di masyarakat kita hanya dipelihara seadanya. Tidak disiapkan kandang khusus dan sebagian besar hanya dibiarkan tidur di pepohonan jika malam hari. Pemberian pakannya juga tidak diperhatikan dan dibiarkan lepas untuk mencari pakan sendiri. 

Kesimpulan

Dari uraian diatas semoga kita mendapat gambaran tentang faktor apa saja yang menghambat perkembangan peternakan rakyat. Dari 5 faktor diatas, faktor yang ke-5 adalah faktor utama yang sangat penting untuk segera ditindaklanjuti. Mindset peternak kita harus dirubah sehingga dapat menganggap bahwa peternakan adalah sektor usaha yang menjanjikan dari segi bisnis.

Tentunya, untuk merubah pola pikir masyarakat tentang usaha peternakan ini, perlu kolaborasi semua pihak utamanya pemerintah. Pemerintah harus memiliki perencanaan yang jelas mengenai pengembangan peternakan. Sehingga penyuluh peternakan dapat ditingkatkan lagi efektifitas kinerjanya dalam pendampingan kepada peternak.

Perguruan tinggi juga harus mengambil peran dalam pengabdian masyarakat sehingga dapat seiring sejalan mengembangkan peternakan rakyat. Harapan akhirnya adalah kesejahteraan peternak dapat ditingkatkan melalui pengembangan peternakan.