Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Pakan pada Ternak - Pakan adalah kebutuhan utama pada semua jenis ternak yang berfungsi untuk pertumbuhan, mempertahankan kehidupan (hidup pokok), dan reproduksi. Asupan pakan atau konsumsi pakan erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan nutrien ternak agar dapat melaksanakan ketiga fungsi tersebut.


Pemenuhan kebutuhan protein adalah tujuan utama penyediaan pakan ternak. Penyusunan formulasi pakan harus memperhatikan kebutuhan nutrien sesuai dengan bangsa ternak, umur, iklim, serta status fisiologi ternak. Penyusunan formulasi pakan diperhitungkan secara baik agar pakan yang disediakan memenuhi kebutuhan nutrien serta dapat dikonsumsi dengan baik oleh ternak.


Dengan kata lain, tingkat konsumsi pakan juga adalah hal penting yang harus diperhatikan dalam penyusunan formulasi. Karena walapun kandungan nutrien dalam pakan telah seimbang atau sesuai dengan kebutuhan ternak, tapi tingkat konsumsi pakan tersebut rendah, maka kandungan nutrien dalam pakan tidak akan termanfaatkan dengan baik.


Oleh sebab itu, pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi pakan oleh ternak penting untuk diketahui. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi konsumsi pakan yaitu faktor internal, status fisiologi ternak, faktor pakan, serta faktor lingkungan.


Faktor Internal


1. Faktor Gastric Distension, yaitu tingkat tekanan yang terjadi pada saluran pencernaan ternak. Jika gastric distension ini meningkat, maka tingkat asupan pakan atau feed intake akan menurun.


2. Glucostatic theory, apabila kandungan glukosa darah tinggi maka akan menurunkan konsumsi pakan. Hal ini beruhubungan dengan pemanfaatan glukosa darah yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Tingkat glukosa darah ini juga memberikan pengaruh ke pusat lapar di otak sehingga konsumsi pakan menurun.


3. Thermostatic control. Ternak merupakan hewan berdarah panas, yaitu senantiasa beradaptasi dengan kondisi lingkungan untuk mempertahankan suhu tubuh. Ternak akan meningkatkan konsumsi pakan jika dalam keadaan dingin, begitu pula sebaliknya konsumsi pakan akan menurun jika dalam kondisi panas.


4. Lipostatic control, yaitu ketika kandungan asam lemak dalam tubuh tinggi maka akan berpengaruh terhadap menurunnya konsumsi pakan. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan pemanfaatan asam lemak dalam siklus crab.


Faktor Status Fisiologi


1. Faktor Pertumbuhan. Pertumbuhan adalah salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tingkat konsumsi pakan. Ternak yang sedang dalam masa pertumbuhan akan mengkonsumsi pakan lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan nutrien bagi tubuh. Karena sebagaimana diketahui bahwa salah satu fungsi nutrien dalam pakan adalah untuk keperluan pertumbuhan ternak.


2. Adanya penimbunan lemak dalam tubuh (obesity). Lemak pada dasarnya adalah komponen nutrien yang dibutuhkan oleh tubuh ternak. Kelebihan konsumsi lemak akan disimpan dalam tubuh sebagai cadangan energi.


Ketika penyimpanan lemak dalam tubuh banyak, maka tubuh akan merespon untuk menggunakan cadangan lemak sehingga konsumsi pakan menurun. Kemungkinan juga berhubungan dengan pemanfaatan asam-asam lemak bebas dalam darah sehingga menurunkan konsumsi pakan.


3. Status reproduksi. Tingkat konsumsi pakan ternak juga dipengaruhi oleh status reproduksi. Pada ternak ruminansia yang sedang mengalami estrus, konsumsi pakannya akan menurun. Hal ini berkaitan dengan pengaruh hormon-hormon reproduksi yang bekerja selama siklus estrus.


Pada masa kebuntingan ternak konsumsi pakan juga akan meningkat pada pertengahan masa kebuntingan, tapi akan menurun pada akhir kebuntingan. Peningkatan konsumsi pakan pada pertengahan masa kebuntingan berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan nutrien fetus yang sedang berkembang. Sedangka penurunan nafsu makan pada akhir fase kebuntingan kemungkinan karena pengaruh hormon estrogen yang bekerja untuk mempersiapkan kelahiran ternak.


Faktor status reproduksi yang ketiga adalah pada masa laktasi. Pada masa laktasi, konsumsi pakan akan meningkat terutama pada masa kering. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan produksi air susu.


4. Faktor Penyakit. Penyakit adalah salah satu faktor yang mempengaruhi konsumsi pakan, tidak hanya pada ternak pada manusia yang sedang sakit konsumsi makanan akan menurun. Oleh karena itu, kesehatan ternak adalah hal penting untuk dijaga agar konsumsi pakannya tetap normal.


Faktor Pakan


Tidak hanya status fisiologi dan faktor internal, pakan ternyata juga dapat mempengaruhi tingkat konsumsi pada ternak. Beberapa faktor pakan yang mempengaruhi tingkat konsumsi adalah sebagai berikut:


1. Tingkat Energi Pakan. Pakan dengan kandungan energi tinggi akan menyebabkan konsumsi pakan menurun. Hal ini berhubungan dengan status metabolisme tubuh dimana proses metabolisme untuk penguraian nutrien dalam pakan menghasilkan panas sekaligus membutuhkan energi. Sehingga apabila ternak diberi pakan dengan kandungan energi tinggi konsumsinya cenderung menurun.


2. Laju Pencernaan atau rate of passage. Jenis pakan yang lebih cepat dalam melewati saluran pencernaan akan mempengaruhi terhadap peningkatan konsumsi, akan tetapi tingkat kecernaannya rendah. Sebagai contoh, hay yang digiling apabila diberikan ke ternak sapi maka konsumsi pakannya akan meningkat karena pakan lebih cepat meninggalkan saluran pencernaan.


3. Warna, bentuk, aroma, dan rasa. Pakan dengan bentuk, warna, aroma, dan rasa yang baik akan disukai ternak dan cenderung akan meningkatkan konsumsi pakan. Tetapi jika ternak diberikan dengan pakan yang aromanya busuk misalnya, maka konsumsi pakannya akan menurun. Hal ini sering dikaitkan dengan tingkat kesukaan ternak terhadap jenis pakan atau disebut palatabilitas.


4. Konsumsi air minum atau water intake. Air adalah komponen nutrien yang berfungsi sebagai zat pelarut dalam tubuh. Air juga dibutuhkan untuk mempertahankan suhu tubuh ternak. Konsumsi air minum yang rendah biasanya akan menurunkan konsumsi pakan.


Faktor Lingkungan


1. Temperatur dan kelembaban lingkungan. Suhu atau temperatur lingkungan erat kaitannya dengan konsumsi pakan. Jika kondisi lingkungan panas, maka konsumsi pakan akan menurun, sebaliknya konsumsi air minum akan meningkat. Ini berkaitan dengan upaya tubuh ternak untuk mempertahankan keseimbangan antara suhu tubuh dengan suhu lingkungan.


Ternak yang mendapat pengaruh lingkungan utama temperatur lingkungan yang tinggi, dapat menngalami stres panas yang dapat menurunkan produktivitas. Baca: Hubungan stres panas dengan produktivitas ternak.


Hubungan temperatur dan kelembaban lingkungan biasa dikenal sebagai Temeperature Humidyti Index (THI). Nilai THI yang normal adalah 72, jika nilai THI sudah mencapai 80 ke atas maka ternak dapat mengalami stres panas, dan jika terus meningkat dapat menyebabkan kematian.


2. Faktor Photoperiod. Photoperiod adalah lamanya ternak mendapat paparan cahaya, baik yang bersumber dari matahari langsung maupun dari sumber cahaya buatan seperti lampu. Ternak yang mendapat pencahayaan yang normal cenderung konsumsi pakannya normal, tetapi jika kurang mendapat cahaya konsumsi pakannya menurun.


3. Social faktor. Ternak biasanya selalu bergerombol dengan kawanannya. Kebiasaan makan ternak dapat meningkat jika melihat kawanannya aktif makan. Artinya, ternak akan mengikuti kebiasaan lingkungan sekitar bersama kawanannya. Faktor sosial ini sebenarnya tidak begitu besar pengaruhnya terhadap konsumsi pakan ternak jika dibandingkan dengan beberapa faktor yang sudah dijelaskan di atas.


Kesimpulan


Konsumsi pakan berhubungan erat dengan penyediaan nutrien bagi ternak. Konsumsi pakan yang rendah akan mengurangi pemanfaatan nutrien oleh tubuh ternak sehingga dapat menghambat pertumbuhan, hidup pokok, dan reproduksi. Tinggi rendahnya konsumsi pakan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor internal, status fisiologi, faktor pakan, dan faktor lingkungan. Dengan demikian faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi pakan ini sangat penting untuk diketahui agar dalam penyusunan formulasi pakan atau ransum ternak sebisa mungkin menghindari penyebab rendahnya konsumsi pakan.